Lompat ke konten

Zina Ghairu Muhsan, Pelakunya Bisa Dapat Azab Dunia


Jakarta

Zina adalah perbuatan keji yang dilarang oleh Allah SWT. Zina dibagi menjadi dua jenis, yaitu zina muhsan dan zina ghairu muhsan.

Dikutip dari buku Sembuh Total dengan Wirid Asmaul Husna karya Rizem Aizid, menurut syara’, zina adalah hubungan badan tanpa ikatan yang sah (pernikahan). Dengan kata lain, apabila terdapat laki-laki dan perempuan yang tidak menikah tetapi melakukan hubungan layaknya suami-istri, maka perbuatan tersebut bisa dikatakan zina.

Dalam Islam, zina termasuk dosa besar yang sangat dibenci Allah SWT dan hukumnya haram. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al Isra’ ayat 32.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

Artinya: “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.”

Zina juga disebutkan dalam surah Al Furqan ayat 68. Allah SWT berfirman,

وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا

Artinya: “Dan, orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain, tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Siapa yang melakukan demikian itu niscaya mendapat dosa.”

Perbuatan zina dibagi menjadi dua, yaitu zina muhsan dan zina ghairu muhsan.

Pengertian Zina Ghairu Muhsan dan Hukumannya

Zina ghairu muhsan adalah perbuatan zina yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang belum pernah menikah.

Mengacu pada sumber sebelumnya, hukuman yang diberikan kepada pezina ghairu muhsan adalah didera 100 kali dan diasingkan dari kediamannya selama satu tahun pada tempat paling jauh, sejarak musafir yang diperkenankan salat qasar yaitu 90 kilometer. Dalil mengenai hukuman ini ada pada Al-Qur’an surah An Nur ayat 2.

اَلزَّانِيَةُ وَالزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖوَّلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۚ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَاۤىِٕفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (melaksanakan) agama (hukum) Allah jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Hendaklah (pelaksanaan) hukuman atas mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang mukmin.”

Dikutip dari Fiqh Jinayah karya Nurul Irfan dan Masyrofah, hadits yang menjelaskan sanksi pengasingan bagi pelaku zina ghairu muhsan yaitu sebagai berikut.

Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW memerintahkan agar orang yang berzina ghairu muhsan dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.” (HR Al Bukhari)

Adapun ulama berbeda pendapat mengenai pelaksanaan dari hukuman cambuk dan pengasingan bagi pelaku zina ghairu muhsan.

Mazhab Maliki berpendapat seorang perjaka merdeka yang melakukan zina harus dikenai sanksi pengasingan setelah dicambuk seratus kali. Sedangkan bagi gadis yang melakukan zina, sanksi pengasingan tidak berlaku baginya.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat kedua pelaku zina, baik laki-laki maupun perempuan, harus menjalani sanksi cambuk seratus kali dan diasingkan ke tempat yang jauh. Namun, bagi si gadis harus disertai mahram yang akan menemani dan mengurusinya ketika di tempat pengasingan.

Mazhab Hanafi berpendapat kedua hukuman bagi pelaku zina ghairu muhsan yaitu cambuk seratus kali dan pengasingan tidak dapat dicampuradukkan. Ini karena hukuman pengasingan tidak disebutkan dalam surah An Nur ayat 2.

Simak Video “Inspirasi di Balik Konten TikToker Abah Didi: Sinetron Azab hingga Gen Z
[Gambas:Video 20detik]
(kri/kri)

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.