Lompat ke konten

Sosok Wanita yang Buktikan Siksa Dunia Lebih Ringan daripada di Akhirat


Jakarta

Ada sebuah kisah dalam ajaran Islam yang menyadarkan manusia kalau siksa dan cobaan di dunia lebih ringan dibandingkan di akhirat. Kisah tersebut dibuktikan oleh seorang wanita.

Memang, masih banyak umat muslim yang terlena dengan nikmatnya dunia. Hal ini membuat mereka lupa kalau hidup di dunia tidak abadi.

Ketika meninggal dunia, seluruh harta kekayaan, sahabat, hingga keluarga akan ditinggalkan. Hanya amal kebaikan yang menyelamatkan kita dari siksa api neraka.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ingin tahu kisah sosok wanita yang membuktikan siksa dunia lebih ringan daripada akhirat? Simak dalam artikel ini.

Kisah Wanita yang Buktikan Siksa Dunia Lebih Ringan daripada Akhirat

Kisah ini diceritakan Abul Fida’ Abdurraqib bin Ali bin Hasan Al-Ibi dalam Karamat Al-Auliya’ seperti diterjemahkan oleh Abdurrosyad Shidiq. Ia mengutip sebuah riwayat Imam Ahmad yang berasal dari Abu Dharir, dari Hammad bin Salamah, dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakannya dari Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW menceritakan, saat malam Isra’ beliau mencium aroma yang begitu harum. Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya kepada malaikat Jibril, “Wahai Jibril, aroma apakah ini?”

Malaikat Jibril pun menjawab, “Itu adalah aroma wanita yang menyisir putri Firaun dan anak-anaknya.”

Lalu Rasulullah SAW kembali bertanya, “Apa yang terjadi padanya?”

Malaikat Jibril menjawab, “Pada suatu hari ketika Masyithah sedang menyisir putri Firaun, sisirnya jatuh dari tangannya. Lalu, secara spontan ia berkata, ‘Dengan nama Allah’.”

Putri Firaun bertanya, ‘Itu ayahku?’

Wanita itu menjawab, ‘Bukan. Tetapi Tuhanku dan Tuhan ayahmu. Dialah Allah SWT.’

Putri perempuan Firaun bertanya lagi, ‘Bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada ayahku?’

Wanita itu kemudian menjawab, ‘Boleh.’

Lalu, anak itu memberitahukannya kepada ayahnya. Wanita tersebut kemudian dipanggil oleh Firaun dan ditanya, ‘Hai pelayan, apakah kamu punya Tuhan selain aku?’

Ia menjawab, ‘Punya. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah SWT.’

Kemudian, Firaun menyuruh pesuruhnya untuk mengambilkan sebuah wajan besar. Setelah diisi dengan air yang sangat mendidih, wanita itu dan anak-anaknya dilemparkan ke dalamnya.

Namun, sebelumnya wanita itu sempat berkata, ‘Aku punya satu permintaan kepadamu.’

Firaun lalu bertanya, ‘Apa permintaanmu?’

Ia menjawab, ‘Aku ingin kamu mengumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku pada selembar kain, lalu kamu kubur kami dalam satu liang lahat.’

Firaun berkata, ‘Baiklah.’

Lalu, Firaun menggiring wanita itu dan anak-anaknya satu per satu ke dekat wajan tersebut. Ketika sampai pada giliran seorang ibu dan bayinya yang masih menyusui, bayi itu melihat sang ibu seperti ragu untuk memasuki bejana tersebut.

Bayi itu tiba-tiba berkata, ‘Hai ibu, masuklah. Sesungguhnya siksa dunia itu lebih ringan daripada siksa akhirat.’

Kemudian, wanita itu masuk ke dalam wajan yang berisi air yang sangat panas.

Menurut Abdul Fida’ Abdurraqib bin Ali bin Hasan Al-Ibi, hadits yang menceritakan tentang wanita penyisir putri Firaun tersebut hasan. Lalu, Ibnu Katsir dalam At-Tafsir mengatakan hadits ini tidak apa-apa.

Dalam buku Argumen Ekopedagogi dalam Al-Qur’an oleh Adudin Alijaya, dijelaskan bahwa nama Firaun telah disebut sebanyak 74 kali di dalam Al-Quran. Allah SWT menjulukinya sebagai orang yang melampaui batas.

Firaun merupakan salah satu raja Mesir yang hidup semasa Nabi Musa AS. Ia dikenal sebagai penguasa yang paling sombong, congkak, melampaui batas, selalu menindas rakyatnya, dan suka memecah belah masyarakat.

Salah satu firman Allah SWT mengenai Firaun terdapat dalam surat Yunus ayat 83 yang berbunyi:

فَمَآ اٰمَنَ لِمُوْسٰىٓ اِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّنْ قَوْمِهٖ عَلٰى خَوْفٍ مِّنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهِمْ اَنْ يَّفْتِنَهُمْ ۗوَاِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِى الْاَرْضِۚ وَاِنَّهٗ لَمِنَ الْمُسْرِفِيْنَ ٨٣

Artinya: “Tidak ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya disertai ketakutan kepada Fir’aun dan para pemuka kaumnya yang akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun benar-benar sewenang-wenang di bumi. Sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Yunus: 83)

Mengutip buku Situs-Situs dalam Al-Qur’an: Dari Banjir Nabi Nuh hingga Bukit Thursina oleh Syahruddin El-Fikri, sebutan Firaun dalam Al-Qur’an tertuju kepada raja Mesir yang hidup pada tahun 1527-1407 Sebelum Masehi.

Firaun dikhususkan untuk menyebut penguasa Mesir yang membangkang dan tidak beriman kepada Allah SWT. Sedangkan yang beriman kepada-Nya dikenal dengan nama Malik, yang saat itu hidup di zaman Nabi Yusuf AS.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf ayat 103. Allah SWT mengutus Nabi Musa AS kepadanya, namun Firaun terus mengingkarinya.

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْۢ بَعْدِهِمْ مُّوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهٖ فَظَلَمُوْا بِهَاۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ ١٠٣

Artinya: “Kemudian, Kami utus Musa setelah mereka dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Lalu, mereka mengingkarinya. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al A’raf: 103)

Dialah sosok raja Mesir yang kala itu menindas Kaum Bani Israil. Maka dari itu, Allah SWT mengutus Nabi Musa AS untuk mengajak Firaun kembali ke jalan kebenaran.

Demikian kisah tentang sosok wanita yang membuktikan siksa di dunia lebih ringan daripada akhirat. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan detikers.

Simak Video “Kronologi Ditemukannya Mayat Wanita Membusuk di Kosan Tambora
[Gambas:Video 20detik]
(ilf/fds)

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.