Lompat ke konten

Peneliti Sangsi Wacana Penyatuan Kalender Hijriah Sedunia Bisa Terwujud



Jakarta

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin meyangsikan wacana unifikasi kalender Hijriah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal dapat terwujud. Khususnya penyatuan kalender Hijriah untuk fungsi ibadah.

“Untuk kalender ibadah, tidak mungkin satu bumi disatukan,” katanya kepada detikHikmah usai menghadiri diskusi media bertajuk Kriteria Baru MABIMS dalam Penentuan Awal Ramadan di kantor BRIN, Jumat (8/3/2024).

Menurut penjelasan Thomas, penggunaan kalender dalam fungsi ibadah masih bergantung pada faktor lokalitas bagi kelompok muslim yang berpedoman pada rukyat atau pemantauan hilal.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Bagi (kelompok muslim) pengamal hisab bisa dilakukan tetapi ada juga pengamal hisab yang memperhitungkan dari segi ketampakkan hilal,” papar Thomas.

Thomas kemudian mencontohkan Persis atau Persatuan Islam sebagai pengamal hisab yang tidak bergantung pada hasil rukyat. Meski demikian, kriteria yang dimiliki Persis sudah didasarkan pada kriteria rukyat sehingga hasil keputusannya tetap akan sama.

Sebaliknya, Thomas mengatakan, unifikasi dengan Kalender Hijriah Global Tunggal dikhususkan untuk fungsi sipil lebih mungkin untuk dilakukan. Ia menyebut, hal itu dilakukan oleh Arab Saudi dengan mengubah kalender Hijriah menjadi kalender internasional hanya untuk fungsi sipil.

Thomas melanjutkan, sebetulnya bisa saja Kalender Hijriah Global Tunggal difungsikan untuk administrasi. Namun, menurutnya, fungsi utama kalender Hijriah pada dasarnya untuk ibadah.

“Tetapi, tetap saja kalender Hijriah sebagai kalender ibadah tidak bisa dijadikan satu (seragam). Dan itu lokalitas akan tetap mempengaruhi,” ujarnya.

Thomas menyebut sekalipun dengan kriteria MABIMS tidak dapat menyatukan kalender Hijriah sedunia. Pasalnya, kriteria MABIMS berpusat di wilayah Timur hingga wilayah sekitar, tetapi tetap akan sulit untuk menyesuaikan dengan wilayah lain.

Ia mengambil contoh, perbedaan akan ditemukan bila perluasan kriteria sampai ke wilayah Amerika. Berdasarkan penuturan Thomas, penanggalan di wilayah benua Amerika bisa lebih dulu dibandingkan dengan wilayah Timur.

“Tidak bisa memaksa mereka harus menunggu (wilayah lain karena perbedaan waktu),” katanya.

“Kalau mengabaikan rukyat, disatukan satu hari satu tanggal, itu mungkin tidak akan klop dengan hasil rukyat. Dan pasti bisa terjadi perbedaan dengan hasil rukyat kalau di titik tersebut posisi hilalnya sangat rendah,” lanjutnya lagi.

Untuk itu, Thomas menyebut, penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal justru akan melahirkan lebih banyak perbedaan.

“Ketika menggunakan kriteria wujudul hilal, ketika di Indonesia-nya negatif, posisi bulan, pasti akan seragam. Tetapi dengan menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal, di Amerika sudah terpenuhi, bisa terjadi di wilayah Indonesia masih negatif (hilalnya),” ujar dia.

Diberitakan sebelumnya, Pusat Pimpinan (PP) Muhammadiyah akan menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal mulai Tahun Baru Islam mendatang. Konsep yang dipersiapkan untuk kalender ini adalah satu hari satu tanggal Hijriah di seluruh dunia.

Sudah diakui pula sebelumnya oleh Ketua PP Muhammadiyah Syamsul Anwar penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal tersebut tidak mudah dan memerlukan waktu yang lama.

Simak Video “Alasan Jurnal Ilmiah Indonesia Wajib Publikasi Internasional
[Gambas:Video 20detik]
(rah/rah)

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.