Lompat ke konten

Hukum Salat Tarawih 4-4-3 Rakaat, Bolehkah? Ini Dalilnya


Jakarta

Salat Tarawih adalah ibadah sunnah yang dikerjakan sepanjang Ramadan. Amalan ini disebut qiyam Ramadan pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Menukil buku Fiqih Praktis karya Muhammad Bagir, istilah tarawih baru dipakai pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA. Dalil pelaksanaannya merujuk pada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,

“Barang siapa mengadakan qiyam Ramadan karena keimanan dan pengharapan pahala maka akan ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR Bukhari, Muslim & Tirmidzi)


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salat Tarawih bisa dikerjakan dengan jumlah rakaat 8 atau 20. Pelaksanaannya bisa setiap 2 rakaat ditutup salam atau 4 rakaat ditutup salam tanpa tasyahud awal. Setelahnya barulah ditutup witir sebagai penyempurna dengan rakaat 1 atau 3.

Meski demikian, perbedaan bilangan rakaat Tarawih kerap menjadi perdebatan. Lantas, bagaimana hukum salat Tarawih 4-4-3 rakaat?

Hukum Salat Tarawih 4-4-3 Rakaat

Pada pelaksanaan Tarawih 4-4-3 rakaat artinya dengan delapan rakaat yang ditutup dengan witir tiga rakaat. Dalil pengerjaannya bersandar pada sebuah hadits dari Aisyah RA, ia berkata:

“Nabi SAW tidak pernah melakukan salat sunnah pada Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian, beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat lagi tiga rakaat (witir).” (HR Bukhari dan Muslim)

Diterangkan dalam buku Kontroversi Shalat Malam, Witir dan Tarawih: Telaah Kritis Atas Hadis-Hadis susunan Wawan Shofwan Shalehuddin, setidaknya ada dua cara Nabi SAW mengerjakan Tarawih 11 rakaat. Pertama dengan hitungan 4-4-3 dan 2-2-2-2-2-1.

Sementara itu, hitungan 2-2-2-2-2-1 diterangkan pula dalam hadits dari Ibnu Abbas RA,

“Aku berdiri di samping Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya di kepalaku dan dipegangnya telinga kananku dan ditelitinya, lalu Rasulullah salar dua rakaat kemudian dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, dan kemudian dua rakaat, selanjutnya Rasulullah SAW salat witir, kemudian Rasulullah SAW tiduran menyamping sampai Bilal menyerukan azan. Maka bangunlah Rasulullah SAW dan sholat dua rakaat singkat-singkat, kemudian pergi melaksanakan salat Subuh.” (HR Muslim)

Turut dijelaskan oleh Ustaz Abdul Somad Lc MA dalam bukunya yang berjudul 37 Masalah Populer untuk Ukhuwah Islamiyah, Syekh Ibnu Baz mengatakan bahwa salat Tarawih 11 rakaat, 13 rakaat, atau 23 rakaat boleh-boleh saja.

Menurut hadits dari Ibnu Abbas RA, Nabi Muhammad SAW melaksanakan salat Tarawih 13 rakaat. Namun jika seorang muslim ingin melaksanakan 23 rakaat tidak diingkari, sebab sang rasul tidak membatasi salat malam.

Perlu dipahami Tarawih termasuk ke dalam salat malam dan sempat disebut sebagai qiyam Ramadan yang artinya penghidupan malam Ramadan. Maksudnya ibadah untuk menghidup malam-malam Ramadan.

Meski demikian, mengutip buku Seri Fiqih Kehidupan 3 : Shalat oleh Ahmad Sarwat, Ibnu Taimiyah melalui Al-Fatawa Al-Kubra menerangkan bahwa Rasulullah SAW memang tidak membatasi jumlah rakaatnya. Dari total 13 rakaat, ia tidak menambahi atau mengurangi melainkan memanjangkan rakaatnya.

Wallahu’alam bishawab.

Niat Salat Tarawih 4 Rakaat

Merangkum arsip detikHikmah, berikut niat salat Tarawih dengan formasi 4-4-3 rakaat.

1. Niat Salat Tarawih 4 Rakaat Sendiri

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ َارْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً ِللهِ تَعَالَى

Arab latin: Usholli sunnatat-tarawiihi arba’a rakaatin mustaqbilalqiblati adaan lillahi ta’ala.

Artinya: “Aku berniat salat sunnah Tarawih empat rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah SWT.”

2. Niat Salat Tarawih 4 Rakaat sebagai Makmum

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ َارْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Arab latin: Usholli sunnatat-tarawihi arba’a rakaatin mustaqbilalqiblati adaan makmuman lillahi ta’ala

Artinya: “Aku berniat salat sunnah Tarawih empat rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT.”

3. Niat Salat Tarawih 4 Rakaat sebagai Imam

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ َارْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Arab latin: Usholli sunnatat-tarawiihi arba’a rakaatin mustaqbilalqiblati adaan imaman lillahi ta’ala.

Artinya: “Aku sengaja salat sunnah Tarawih empat rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT,”

Itulah pembahasan mengenai hukum salat Tarawih dengan formasi 4-4-3 rakaat dan informasi terkaitnya. Semoga bermanfaat.

Simak Video “Toleransi Beragama, Umat Hindu di Lampung Jaga Rumah Warga yang Tarawih
[Gambas:Video 20detik]
(aeb/lus)

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.