Lompat ke konten

Gengsi



Jakarta

Agama Islam tidak memandang manusia dari penilaian individu terhadap manusia, melainkan memandang dari tingkat keimanannya. Orang akan memiliki harga diri tinggi di mata Allah SWT. adalah orang yang memiliki ketakwaan yang tinggi pula kepada-Nya.

Sekarang banyak orang mementingkan harga diri yang tinggi di hadapan orang lain. Sehingga kebanyakan dari mereka mementingkan harga diri atau gengsinya dibandingkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Inilah yang membuat sifat gengsi harus dihindari, untuk semua kalangan. Sifat ini hanya memuaskan nafsu saja, namun memerlukan ongkos yang tidak sedikit. Ingatlah bahwa seseorang yang kerap menjaga image, maka gerakannya tidak akan lincah karena dibatasi oleh kegengsiannya.

Kenapa orang melakukan itu ( gengsi ) ? Seseorang yang memiliki rasa Gengsi biasanya timbul karena kurangnya rasa percaya diri dan malu untuk mengakui kekurangan diri sendiri. Gengsi sendiri bersangkutan dengan harga diri, kehormatan serta martabat. Orang dengan Gengsi tinggi akan berusaha bagaimanapun caranya untuk terlihat sepadan dengan orang lain.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Segala bentuk derajat yang dihormati maupun disegani oleh manusia, tidaklah berpengaruh ( sia-sia ) di hadapan-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-hujurat ayat 13 yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Jelas dalam ayat di atas dikatakan kemuliaan seseorang itu tergantung ketakwaannya kepada Allah SWT. bukan orang yang kaya raya, bukan pula orang yang berkedudukan tinggi lagi berkuasa. Orang-orang tersebut pada saatnya akan mempertanggungjawabkan atas kepemimpinannya maupun atas harta kekayaannya. Oleh sebab itu, rasa gengsi harus dijauhi. Bukan hanya karena sifat tersebut menghalangi seseorang untuk melakukan perbuatan baik, namun juga karena sifat ini merupakan turunan dari sikap sombong. Sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni dalam al-Minah as-Saniyah, “Jauhilah sifat haya’ ath-thobi’i (gengsi). Sesungguhnya di kalangan para sufi, sifat itu tergolong dalam sifat sombong (kibr).”

Dikisahkan suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengundang para pejabat tinggi Dinasti Umayyah untuk makan di istana. Karena yang mengundang adalah Khalifah, maka para pejabat tinggi itu berdatangan.
Sebelumnya, beliau berpesan kepada para koki agar tidak menghidangkan menu makanan terlebih dahulu. Maka setelah para pejabat ini berkumpul, dan diiringi obrolan-obrolan. Kemudian tampak salah satu pejabat ada yang memegang perutnya karena lapar, maka Khalifah bilang kepada para koki untuk menghidangkan menu pembuka. Dan menu pembuka itu hanya makanan roti bakar yang sangat sederhana. Setelah roti bakar itu terhidang, beliau menyantap roti tersebut bersama para pejabat.
Setelah itu, Khalifah memerintah koki untuk mengeluarkan menu utama. Terlihat hidangan itu mewah dan lezat. Ketika para pejabat dipersilakan untuk menikmati hidangan utama. Ternyata para pejabat itu menolak karena sudah kenyang.

Melihat tingkah pejabat yang enggan makan karena sudah kenyang dengan roti bakar yang sederhana, maka beliau berkata kepada para pejabat, “Wahai kalian para pejabat tinggi, kalau kalian mampu memuaskan nafsu makan kalian hanya dengan roti bakar seperti tadi, kenapa kalian bersikap serakah sampai korupsi, menyuap, hingga memotong dana bantuan dan sebagainya?” Mendengar ucapan itu para pejabat merasa malu atas pertanyaan tersebut.

Dari sini kita dapat belajar bahwa hidup sederhana itu sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan kata baginda Nabi, “Salah satu di antara tiga perkara yang menyelamatkan manusia itu adalah wal qadu fi al-faqri wal ghina (bersikap sederhana baik ketika fakir atau pun kaya). Artinya sederhana itu tidak berlebih-lebihan dan tidak terlalu pelit. Sebenarnya hidup manusia itu antara dua hal, pertama kebutuhan dan kedua itu keinginan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah memberikan nasihat, “Menjadi orang berkebutuhan sedikit lebih aman dalam hidupnya.” Kebutuhan bisa diatasi dengan sikap sederhana, seperti kebutuhan pangan dan pakaian serta papan. Namun jika berbicara masalah keinginan, maka tidak ada sesuatu yang dapat mengukur keinginan manusia. Karena keinginan manusia itu akan menyesuaikan dengan apa yang dia peroleh. Ketika manusia itu memperoleh pendapatan yang banyak, maka jangan heran jika keinginan mereka juga bertambah.

Sebagaimana Allah SWT. mengingatkan kepada kita dalam surah asy-Syu’ara ayat 27 yang artinya, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat.”

Makna ayat diatas adalah ketika Allah SWT. menurunkan semua rezeki kepada manusia, pastilah mereka akan melampaui batas. Maka dari itu, menurunkan apa yang dikehendaki-Nya saja. Agar manusia tidak melampaui batas. Adapun contoh sikap yang melampaui batas, seseorang membeli jam tangan sangat mewah ( ada sahabat yang membeli dengan harga 2 – 2,5 Milyar ) untuk memenuhi gengsi. Itu sama sekali bukan sikap yang sederhana. Masih banyak orang yang lebih mementingkan gengsi dari pada fungsi.

Semoga Allah SWT. selalu memberikan petunjuk-Nya agar kita semua terbebas dari sikap gengsi.

Aunur Rofiq
Ketua DPP PPP periode 2020-2025
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

Simak Video “Jaga Kearifan Lokal, Masjid Al-Hikmah Dibangun dengan Nuansa Khas Bali
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.