Lompat ke konten

Apakah Setiap 2 Rakaat Salat Tarawih Perlu Membaca Niat?


Jakarta

Salat Tarawih adalah ibadah sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Salat Tarawih bisa dikerjakan sebanyak 8 hingga 20 rakaat.

Niat salat Tarawih dapat dilafalkan sesuai dengan pelaksanaannya, baik dikerjakan secara berjamaah atau pun secara munfarid (sendiri). Salat Tarawih ini sendiri merupakan salat sunah yang dilakukan pada malam hari di bulan Ramadan.

Apakah Setiap 2 Rakaat Salat Tarawih Membaca Niat?

Bacaan niat setiap 2 rakaat salat Tarawih ini berhubungan dengan perbedaan keyakinan mengenai jumlah rakaat sebelum salam. Mengenai hal tersebut, dikutip dari Kitab Shalat Empat Mazhab karya Syekh Abdurrahman Al-Jaziri, terdapat perbedaan pendapat dari empat mazhab, yaitu mazhab Hanafiah, mazhab Hambaliah, mazhab Malikiah, dan mazhab Syafi’iah.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun mazhab yang meyakini bahwa salat Tarawih hanya sah jika dikerjakan dengan satu salam setiap 2 rakaat adalah mazhab Syafi’iah. Jadi, menurut mazhab Syafi’iah, salat Tarawih harus dilakukan dua-dua dan mengucap salam pada setiap akhir dua rakaat agar seluruh rakaat yang dilakukan sah.

Serupa dengan itu, mazhab Hambaliah berpendapat salat Tarawih dilakukan 20 rakaat dan dikerjakan dengan sekali salam setiap 2 rakaat seperti salat sunnah pada umumnya. Lalu, mazhab Malikiah berkeyakinan salat Tarawih dilakukan 36 rakaat dan dikerjakan dengan sekali salam setiap 2 rakaat .

Dinukil dari buku Penuntun Praktis Shalat karya Ustaz Agus Arifin, mazhab Hanafiah berpendapat bahwa salat Tarawih dilakukan 20 rakaat dan boleh dikerjakan dengan sekali salam setiap 4 rakaat .

Berdasarkan hal itu, mayoritas keempat mazhab tersebut berpendapat bahwa salat Tarawih dikerjakan dengan sekali salam setiap 2 rakaat. Untuk pengamalannya, setiap 2 rakaat tersebut juga ada niat yang menyertainya.

Niat Salat Tarawih 2 Rakaat

Dikutip dari Buku Pintar Muslim dan Muslimah karya Rina Ulfatul Hasanah, berikut bacaan niat salat Tarawih untuk 2 rakaat.

أَصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا لِلَّهِ) تَعَالَى.

Ushallii sunnatat taraawiihi rak’ataini (ma’muuman/imaaman) lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku niat salat sunnah Tarawih 2 rakaat (sebagai makmum/imam) karena Allah Yang Mahatinggi.”

Tata Cara Salat Tarawih 2 Rakaat

1. Niat

2. Takbiratul ihram

3. Membaca doa iftitah

4. Membaca surah Al-Fatihah kemudian surah pendek

6. Rukuk

7. I’tidal

8. Sujud

9. Duduk di antara dua sujud

10. Sujud kedua

11. Berdiri mengerjakan rakaat kedua, kemudian dilanjutkan hingga sujud kedua

12. Setelah sujud kedua, melakukan tasyahud akhir lalu salam

13. Berdiri mengulangi salat dengan cara yang sama dari niat hingga tasyahud akhir dan salam

14. Terus diulangi kembali hingga selesai 8-20 rakaat

15. Membaca doa setelah salat Tarawih

Doa setelah Salat Tarawih

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Bacaan latin: Allâhummaj’alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ’ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu’ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na’mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa ‘alâ sariirl karâmati qâ’idîn. Wa bi hûrun ‘in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha’âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka’sin min ma’în. Ma’al ladzîna an’amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj’alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su’adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj’alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma’în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya, “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara sholat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang rida dengan qada-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan sahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Hukum Salat Tarawih

Salat tarawih hukumnya sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan pengerjaannya menurut Ustaz Syaifurrahman El-Fati dalam buku Panduan Shalat Praktis & Lengkap. Sebab itulah, sudah sepatutnya umat muslim rutin melaksanakan salat Tarawih setiap harinya saat Ramadan.

Ditegaskan pula dalam sabda Rasulullah SAW, beliau menganjurkan pengerjaan ini dengan dengan ganjaran ampunan dosa bagi pengamalnya. Berikut bunyi haditsnya,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa ibadah (Tarawih) di bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau.” (HR Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Keutamaan Salat Tarawih

1. Pahala Salat Semalam Penuh

Keutamaan salat Tarawih berjamaah akan diganjar pahala seperti salat semalam penuh. Hal ini disebutkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar RA. Ia mengatakan Rasulullah SAW pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabat kemudian bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

Artinya: “Barang siapa yang qiyamul lail (salat) bersama imam sampai dia selesai, ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

2. Salat yang Utama

Para ulama mazhab Hambali berpendapat sebaik-baiknya salat sunah adalah salat yang dianjurkan pengerjaannya secara berjamaah termasuk salat Tarawih. Sebab, salat sunah ini diserupakan dengan salat fardhu. Terlebih, salat Tarawih hanya ada saat bulan Ramadan sebagai bulan yang sangat mulia.

Simak Video “Melihat Suasana Tarawih Perdana Ramadan 1445 H di Masjid Istiqlal
[Gambas:Video 20detik]
(rah/rah)

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.